people in front of brown concrete building during daytime

NIYABAH HAJI DAN UMRAH

Kupas tuntas hukum niyabah haji dan umrah menurut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Cocok untuk pembaca umum maupun pelajar ilmu agama.

FIQH 4 MAZHAB

Agus Syamsuddin, LC

4/20/20262 min read

UNTUK ORANG YANG MASIH HIDUP Dalam Perspektif Fiqh Empat Madzhab | Oleh : Agus Syamsuddin, Lc.

Niyabah dalam bab ibadah adalah pelaksanaan seseorang dalam beribadah sebagai pengganti ibadah orang lain. (Hasyiyah ad Dasuqi : 2 / 15)

Salah satu sumber adanya niyabah dalam hal ibadah adalah hadits Rasulullah SAW,

عَنْ عَائِشَةَ، رضى الله عنها أَنَّ رَجُلاً، قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا، وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ ‏ "‏ نَعَمْ، تَصَدَّقْ عَنْهَا ‏"‏‏.

Dari Aisyah ra, “Sungguh ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Sungguh ibuku meninggal dengan tiba-tiba. Dan aku dimimpikan bertemu dengannya, yang kalau dia berbicara, maka dia akan bershadaah. Apakah aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah saw menjawab, “ya, bershadaqahlah atas namanya. (H.R. Bukhari: 2760)

Hadits ini memberikan penjelasan akan adanya ibadah shadaqah yang dilakukan seseorang atas nama orang lain, dan ini disebut niyabah.

Hukum asal sesorang dalam beribadah adalah harus dilakukan sendiri, tidak digantikan oleh orang lain atas namanya. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh balasan (akherat) atas apa yang telah dikerjakannya.” (Q.S. an Najm: 53 / 39).

Dalam bab haji dan umrah, jumhur ulama berpendapat bahwa haji atau umrah atas nama orang lain yang masih hidup itu boleh dengan dua syarat, yaitu :

(1) Orang yang diniyabah haji atau umrahnya memiliki udzur yang tidak memungkinkan baginya melaksanakan haji atau umrah selama hidupnya, seperti memiliki penyakit berat yang menahun. Sebagaimana dijelasakan dalam hadits Nabi SAW, 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: (أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، وَالْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمْسِكَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، حُجِّي عَنْ أَبِيكِ») مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu Abbas ra, “Saat haji wada, ada seorang wanita dari Khats'am bertanya kepada Rasulullah saw, dan saat itu al Fadhl bin Abbas membonceng Rasulullah saw. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh kewajiban haji telah Allah wajibkan kepada para hambanya, sementara ayahku sudah tua renta, tidak mampu berada di atas kendaraan, apakah saya boleh berhaji atas namanya?” Beliau saw bersabda, “Ya, hajikan atas namanya.” (Muttafaq Alaih)

(2) Orang yang mengganti (naib) sudah pernah melakukan ibada haji atau umrah untuk dirinya. (Al Mausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah : 42 / 31)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي، قَالَ: «حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ»). أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ (١٨١١).

Dari Ibnu Abbas ra, “Bahwa Rasulullah saw mendengar seseorang mengucapkan, “ya Allah, aku memenuhi seruanmu atas nama Syubrumah.” beliau saw bertanya, “Siapakah Syubrumah tersebut?” Dia menjawab, “Saudaraku atau kerabatku.” Beliau SAW bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau saw bersabda, “Laksanakan haji untuk dirimu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” (H.R. Abu Dawud: 1546).

Sedangkan diantara ulama yang tidak setuju akan adanya badal haji atau umrah bagi yang masih hidup dalah ulama madzhab imam Malik, yang berpendapat bahwa tidak sah niyabah dalam haji atau umrah untuk orang hidup, baik orang tersebut udzur atau tidak memilki udzur. Karena syariat haji dan umrah diberlakukan untuk yang mampu melaksanakannya, dan bagi yang tidak memiliki kemampuan tidak disyariatkan baginya, sehingga tidak perlu ia melakukan ibadah haji atau umrah dengan cara diniyabah oleh orang lain. (Hasyiyah ad Dasuqi: 5 / 335).

Ini bersumber pada firman Allah SWT,

فِيهِ ءَايَـٰتٌۢ بَيِّنَـٰتٌۭ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًۭا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ ٩٧

“Di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.” (Q.S. Ali Imran: 3 / 97).

Perbedaan ini rahmat bagi kita, sehingga kita bisa memilih sesuai dengan keadaan dan keyakinan kita, dalam menjalankan syariat Allah SWT.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

a large building with towers
a large building with towers