
MERENCANAKAN KEMATIAN TERBAIK
Merencanakan kematian bukan tentang ketakutan, tetapi tentang harapan dan kesiapan. Artikel ini mengajak kita menyambut akhir hayat dengan optimisme, memperbaiki amal, dan menutup hidup dengan senyuman—sebagai perjalanan indah menuju pertemuan dengan Allah.
MUHASABAH
Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A
4/27/20265 min read


MERENCANAKAN KEMATIAN TERBAIK DENGAN PENUH OPTIMIS DAN BERJUTA SENYUMAN
Umumnya manusia sibuk memprogress hidup penuh sukacita; berprestasi sepanjang waktu dan penuh optimis dengan masa depan; yang diharapkan jauh lebih cerah. Bahkan, untuk orang-orang kafir, Allah mensinyalir mereka punya semangat hidup hingga seribu tahun lagi. (Teringat puisi heroik dan semangat hidup Khairul Anwar: Antara Karawang dan Bekasi). Walaupun jatah hidup sebesar itu, bagi orang kafir, tak memberi ruang ampunan, sekuntum ridha Allah dan peluang terbebas dari ancaman neraka. Malahan, durasi kehidupan itu mengokohkan mereka dalam lorong menuju neraka, tanpa sadar. Naudzubillah. Karena hati sedang mati, sementara lidah dan fisik tak berhenti mengejar bayang-bayang nikmat duniawi.
Hidup Mulia Atau Mati Syahid
Islam mengajarkan sebuah prinsip, hidup mulia atau mati syahid. Mulia di sini terkoneksi langsung dengan takwa. Yaitu deskripsi tentang kehidupan ideal manusia dengan sejumlah bekal kecintaan kepada Allah; yang membawanya ke ruang-ruang harapan akan luasnya rahmat dan ampunanNya. Sehingga ancaman neraka senantiasa mereka hindari dengan tamengtameng iman dan amal shaleh yang memadai. Intinya, lari dari azab Allah menuju rahmatNya; dengan bekal cinta yang terus menyala.
Manusia dengan tipe seperti ini senantiasa sadar akan kematian. Bahwa jatah hidup itu sangat terbatas. Sementara tanggung jawab jauh lebih besar; jika manusia berharap tersenyum puas di alam berzakh; saat ditemani oleh seseorang yang sangat tampan; yang tak lain adalah hasil prestasi ibadahnya sendiri. Setiap saat kematian itu tampak di depan mata batinnya karena pengaruh iman yang terus berkembang. Seolah teman yang merindu akan kedatangan sang pahlawan dengan sejuta prestasi ibadah.
Kematian; Penasehat Unggulan, Penuh Kejujuran.
"Cukuplah kematian itu sebagai penasehat yang baik," kata Rasulullah suatu ketika. Ia adalah lorong, setiap makhluk pasti akan melewatinya; senang atau tidak, siap atau tidak, mau atau tidak. Jiwa yang terdidik dengan Qur'an dan Sunnah senantiasa merencanakan agar kematian itu datang di saat dia sedang berada di puncak terbaik khusyu'; menjadi hari paling indah selama hidup dan menjadi penutup umur yang paling bergengsi di dunia. Hidup memang perlu direncanakan agar kondisi terbaik bisa diperoleh. Tapi kematian yang merupakan gerbang menuju akhirat; jauh lebih prioritas, agar kita bisa mempersembahkan prestasi gemilang saat kematian itu tiba. Karena kehidupan sebenarnya tergantung pada besarnya iman yang menghiasi hati; baiknya ucapan yang diproduksi oleh lisan; bermutunya kualitas amal yang dihasilkan oleh fisik kita. Cemerlangnya sinar terang kehidupan terkait penuh dengan jelasnya nilai akhirat di jiwa; derasnya ucapan kebanggaan akan nikmat ukhrawi (syukur) dan besarnya amal yang memenuhi timbangan keikhlasan dan prosedur amalan yang bersesuaian dengan contoh teladan sang nabi.
Tak Betah Tanpa Ibadah, Tak Nyaman Tanpa Dakwah.
Kematian yang membanggakan itu terwujud jika kita sebagai muslim sering-sering merasa sepi dan tidak betah jika hidup ini tidak ramai oleh satuan ibadah wajib dan amalan-amalan sunnah. Merasa menyesal karena shalat tak berjamaah. Merasa sesal akibat tilawah harian tak terlaksana. Merasa sial karena lupa dg zikir ketika keluar rumah, saat sebelum dan sesudah makan. Ketika bersama pasangan halal, saat bercermin, saat pagi petang. Pada setiap kondisi hidup ketika masih ada peluang tasbih, tahmid, Istighfar. Saat ada peluang ikut taklim, dengar tausiyah dan membaca buku-buku keislaman. Intinya, ibadah pada setiap kelipatan waktu; pada semua ruang-ruang alam semesta. Di semua unit-unit kerja yang tergolong halal dan thayyib. Itulah konsistensi diri dalam membina keshalehan pribadi dan keluarga.
Termasuk kegelisahan yang menyeruak dalam jiwa orang-orang yang progresif dalam menyongsong kematian bermutu adalah kontribusi dalam dunia dakwah praktis. Maksudnya, ketika muslim konsekwen dengan ibadah mahdahnya, maka itu merupakan teladan yang pasti mengusik fitrah orang-orang sekitar. Sebagaimana maksiat dan kesalahan seperti penyakit menular, keshalehan dan ketaatan pun juga termasuk kesehatan yang menular.
Tak nyaman karena tak terlihat dalam dakwah lisan, baik sifatnya ngajar ngaji, ngajar Ilmu-ilmu yang dimiliki serta ngajar di majelis-majelis taklim; muda mudi millenial atau di forum-forum ilmiah atau di kedai-kedai kopi bahkan hingga kafe-kafe. Itu semua kegelisahan yang menyeruak dalam jiwa sang perindu syahid. Bahkan, saat lisan dan fisik tak mampu menyentuh objek dakwah; masih ada media sosial online siap menampung ide-ide perbaikan dan nasehat keimanan; yang berdosis dan bergizi spiritual tinggi. Masih ada rekaman video dan audio visual yang bisa menyampaikan energi ketakwaan ke ruang-ruang FB, Twitter, Instagram, Line dan beragam media sosial yang kini merajai semua sektor komunikasi. Bahkan ruang-ruang remaja dan pemuda yang biasanya tidak akrab dengan masjid, tak kenal majelis taklim dan tidak tahu adanya komunitas hijrah yang kini bertumbuh di mana-mana, bisa disemai dengan petuah Qur'an dan Sunnah suci.
Tak Betah Menunggu Kerabat.
Saat kematian itu benar-benar nyata, ketidakbetahannya karena tak ibadah dan dakwah ketika di dunia; membuatnya makin tidak betah dipajang lama-lama di atas pembaringan mayat yang menunggu takziah keluarga dan kerabat hingga rekan kerja. Apa yang menunggunya di kuburan sana jauh lebih nikmat dibanding dunia dan segala pernak-perniknya. Maka tak heran jika baginda Rasulullah pernah berpesan, "Segerakanlah jenazah dikuburkan. Jika ia orang shaleh maka kalian mempe cepat dirinya kepada kenikmatan & kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh keburukan itu telah kalian jauhkan dari lingkungan kalian."
Salah Satu Taman Surga.
Barzakh artinya pemisah antara dunia dan akhirat. Ia bisa menjadi taman impian yang membahagiakan atau lubang neraka yang menyiksa. Jika pertanyaan Munkar & Nakir terjawab tuntas, maka sebuah pintu surga terbuka lebar mengalirkan nikmatnimatnya kepada sang hamba. Dengan sigap sang penghuni baru berharap, segerakanlah kiamat. Karena surga asli yang menjadi muara nikmat kubur tak tersentuh kecuali kiamat benar-benar terjadi.
Meluas Sejauh Mata Memandang.
Cukuplah ia menjadi ruang pribadi dengan hamparan yang meluas Sejauh mata memandang; tentunya dengan beragam fasilitas Surga dari satu pintu yang baru terbuka. Ruang yg dulu ketika di dunia dimiliki bersama; bahkan dipertengkarkan dg sanak keluarga, teman kerja hingga dunia politik. Kini ruang itu menjadi milik pribadi sebelum ruang surga dihuni. Barzakh barulah terminal antara yang memisahkan dunia dan surga.
Tidur Pulas Layaknya Pengantin Baru di Bulan Madu.
Di ruang pribadi itu, kenikmatan dinarasikan seolah pengantin baru yang sedang kecanduan bulan madu. Tentram hatinya. Seolah dunia milik sendiri; begitu nikmatnya. Kalo di dunia ini, orang pacaran ketika berduaan dalam kemesraan; dengan egoisnya berkata; dunia ini milik kita berdua. Tidak demikian di barzakh. Nikmat Barzakh dengan perluasan sejauh mata memandang; adalah milik sendiri dengan berjuta kebahagiaan. Memang hidup ini adalah mimpi. Kematian itu baru kehidupan sebenarnya.
Surga; Kenikmatan Sesungguhnya.
Inilah janji Allah yang pasti dipenuhi. Salah satu motivasi mukmin sejati, selain rasa cinta kepada pemilik surga; Allah subhanahu wa Ta'ala. Di surga inilah wajah Allah yang selama ini dicari; dengan iman, takwa, istiqamah, dan semua prestasi keshalehan akan benar tertata oleh mata kepala sendiri. Ketika di dunia saat kita dalam prosesi shalat, Ka'bah-lah arahnya. Ketika haji dan umrah, Ka'bah itu di depan mata. Kadang berasa sedang mimpi, padahal real adanya. Di surga, wajah yang selama ini menggerakkan segala pontensi, semua rasa, sepenuh jiwa; kini dengan jelas, tanpa ada yang menghalangi; terpampang utuh, dicerap oleh mata telanjang; sehingga kenikmatan surga seolah kecil karenanya. Semoga mata yang penuh maksiat ini, berhak untuk menatap wajah mulia itu pada saatnya nanti. Amiiiin.


Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A
