MASJID DAN KEBANGKITAN PERADABAN
Masjid adalah pusat ibadah sekaligus awal kebangkitan peradaban Islam. Berarti “tempat sujud,” istilah ini dikenal sejak turunnya Al-Qur’an dan menjadi ruang utama bagi umat Muslim untuk beribadah, belajar, serta membangun kehidupan yang beriman dan beradab.
MASJID PERADABAN
Sulthan Hadi, Lc., M.Si.
4/24/20265 min read
Kata “Masjid” berasal dari bahasa Arab yang artinya tempat sujud, dan secara umum bermakna tempat ibadah. Walau demikian, kata “masjid” tidaklah populer di kalangan bangsa Arab kecuali setelah Islam datang. Tempat-tempat ibadah, meski memang sudah banyak dan beragam di zaman itu, orang-orang lebih banyak menggunakan sebutan: “bait”, “ma'bad”, “haykal”, “shawami'”, “diyar” dan sebagainya. Kata “masjid” baru digunakan setelah munculnya Islam dan diturunkannya Al Qur'an, yang didalamnya memuat kata “masjid” yang terulang sebanyak 28 kali. Sebab itu, cukup sulit menemukan kata “masjid” dalam puisi Jahiliyah, dan bahkan mungkin dalam prosa, yang menunjukan bahwa kata itu digunakan sebagai nama tempat penghambaan, peribadatan dan pemujaan. Barangkali ada, tapi sangat-sangat jarang. Ini semua mengisyaratkan bahwa masjid adalah tempat ibadah yang memang dikhususkan untuk kaum Muslimin, umat Rasullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagai tempat ibadah, masjid tak hanya digunakan untuk sujud, berdoa dan bermunajat, seperti halnya tempat ibadah agama lain. Di situlah uniknya. Masjid tak serupa dengan tempat ibadah umat manapun, karena fungsinya yang lebih luas dan fleksibel, bahkan sejakRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikannya pertama kali di Madinah, setelah terusir dari kota kelahirannya, Makkah Al Mukarramah.
Dalam sejarah awal Islam, selain sebagai tempat menjalankan ibadah shalat, masjid juga berfungsi untuk menjalankan komando kepemimpinan, pelatihan militer, melakukan guidance dan counselling, pernyataan bai’at, pengajaran, penyebaran ilmu pengetahuan, pembicaraan tentang masalahmasalah sosial, diskusi tentang berbagai persoalan, menelaah firman-firman Allah dan pembahasan ajaran-ajaran agama, bahkan pengangkatan gubernur, panglima perang dan sebagainya.
Pada perkembangan Islam selanjutnya, dari masjidlah kemudian spektrum peradaban pemikiran Islam dalam berbagai bidang ilmu dan pengetahuan dimulai, sebelum munculnya sekolah-sekolah umum, universitas, institut dan perguruan tinggi, serta lembaga-lembaga peradaban lainnya. Dari masjid pulalah seni arsitektur Islam yang otentik diluncurkan, seperti yang telah umum kita ketahui. Sebaliknya, ketika peradaban dan pemikiran Islam mengalami kemunduran dari kedigdayaannya setelah lebih dari 7 abad menerangi, membimbing, dan memimpin dunia, masjid adalah satu-satunya lembaga yang tetap eksis menjaga dan melestarikan sisa-sisa radiasi spiritual, intelektual dan peradaban itu.
Rasanya, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa batubata pertama dari pondasi peradaban Islam adalah batu-bata-batubata yang digunakan oleh Rasulullah SAW, untuk membangun fondasi masjid Quba dan terutama Masjid Nabawi.
Bersama para sahabat mulia radhiyallahuanhum, beliau turut mengangkat bebatuan dengan tangannya sendiri, berpartisipasi dalam membangun rumah suci ini di Madinah, yang menempel dengan rumah tempat beliau berlindung dari terik panas dan dinginnya malam, segera setelah hijrah ke kota itu. Beliau meniru dan mengikuti jejak kakeknya, Ibrahim Al Khalil 'alaihissalam, yang meletakkan dasar-dasar Baitullah, atas perintah Tuhannya di Makkah, dengan bantuan putranya, Ismail ‘alaihissalam, sambil setelahnya berdoa kepada Rabbnya agar mengutus seorang rasul dari rumah ini, di masa depan. Maka Allah pun mengabulkan doa-doanya, dan begitulah yang terjadi. Sebagaimana firman-Nya:
Masjid dan Kebangkitan Peradaban
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِـۧمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَـٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنت ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ١٢٧ رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةًۭ مُّسْلِمَةًۭ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ١٢٨ رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ١٢٩
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al Baqarah : 127-129).
Mendirikan masjid pertama dalam Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, segera setelah beliau hijrah, adalah bukti kongkrit bahwa masjid memang merupakan landmark atau “tengara peradaban” pertama bagi umat Islam, terlepas dari kesederhanaan masjid ini pada awal mulanya. Sebab tentu membangun sesuatu secara bertahap adalah bagian dari sunnah kehidupan, terutama dalam hal membangun peradaban, yang pasti tidak akan mungkin dilakukan dalam sekejap waktu.
Sejarah menegaskan, bahwa masjidlah institusi peradaban pertama bagi umat Islam. Ketika Nabi datang ke Madinah dan mendirikan masjidnya, maka hari itu pun dicatat sebagai cikal bakal lahir dan berdirinya kedaulatan baru bernama negara Islam Madinah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpindah dari tahap dakwah yang penuh intimidasi dan penyiksaan di Makkah, lalu kemudian mencoba meletakkan dasar-dasar negara menuju ke tahap bernegara yang kongkrit, menjalankan organisasi dan legislasi di Madinah.
Ketika itu semua selesai, tentu perlu dihadirkan sebuah lembaga yang akan menjadi markas resmi untuk semua, untuk mengelola urusan negara yang dibentuk, yang dijalankan sesuai dengan bimbingan sang pemimpin, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, agar hak-hak Allah bisa dipenuhi: menjaga dan memperjuangkan aqidah tentang keesaan-Nya, menjalankan ibadah hanya kepada-Nya, memenuhi hak-hak rakyat yang tak lain adalah hamba-hamba-Nya; mengatur urusan mereka, mengurus kepentingan mereka, dan mempertahankan iman mereka, maka masjid adalah pilihan pertama yang disepakati dan diyakini bisa menjadi markas untuk mewadahi itu, baik secara doktrinal, sosial, politik, militer, pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan.
Dari sini, kita akhirnya bisa memahami dan mampu yang membedakan antara konsep peradaban bagi kita, umat Islam, dengan konsep peradaban Barat dan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Dimana konsep peradaban yang dibangun oleh Islam, adalah peradaban yang dibangun di atas pondasi aqidah dan ibadah, spiritualitas dan religiusitas, nilai dan etika, untuk menopang peradaban material yang dikembangkan di atasnya. Bagi umat Islam, peradaban spiritual akan menjadi pilar bagi peradaban material, di mana premis dasar peradaban Islam adalah keyakinan tauhid, yang diwakili oleh aqidah, dengan segala aturan dan manusianya, kemudian Islam dengan segala rukun dan pilarnya, lalu selanjutnya peradaban yang bersifat material, sehingga lahirlah peradaban yang seimbang dan terintegrasi. Dari masjidlah monumen arsitektur dan artistik di bidang peradaban dan kemajuan diluncurkan, bertumbuh sesuai dengan nilai-nilai, cita-cita, dan etika Islam yang luhur.
Sementara konsep peradaban dalam pemikiran Barat, hanya didasarkan pada aspek materialistik, aspek kemajuan fisik, dan tidak memberikan perhatian pada aspek nilai-nilai spiritual. Sebab spiritualitas dan agama dianggap urusan pribadi, yang harus dipisahkan dengan dunia.
Sulthan Hadi, Lc., M.Si.
Gairahkan Kembali Bangunan Peradaban Kita
Diakui atau tidak, masjid telah menjadi institusi peradaban pertama bagi umat Islam, di mana semua fiturnya digerakkan; material maupun spiritual. Dimulai dari masjid, ritual Islam dilakukan, urusan-urusan publik didiskusikan, ilmu pengetahuan dan seni pengetahuan disebarkan, tempat bagi kaum muslimin berkumpul dan bersinergi. Fungsi dan peran itu sebenarnya tidak pernah padam. Hanya barangkali sedang menyusut, seiring tertinggalnya peradaban umat Islam, dan lemahnya kekuatan politik mereka di pentas dunia. Tentu, dengan perkembangan zaman yang kian pesat, umat Islam terus memproduksi institusi-institusi baru untuk mengembalikan kejayaan yang pernah diraih, dan demi membangkitkan kembali peradaban yang tertidur. Tetapi masjid memiliki karakternya sendiri yang tak bisa diabaikan. Masjid memiliki keunggulan-nya dalam berperan yang mungkin tak mudah digantikan oleh institusi-institusi apapun. Keunggulan itulah yang harus dimaksimalkan untuk menggairahkan dan menggelorakan kembali bangkitnya peradaban umat.
Keunggulan itu di antaranya: Pertama, masjid adalah bangunan dan institusi yang paling sering dan paling banyak didatangi oleh kaum Muslimin. Minimal, lima kali sehari ia dikunjungi, menjadi tempat berkumpul banyak orang dalam satu waktu, yang mereka datang tanpa perlu diundang, tak perlu iklan dan promosi bermacam keberuntungan duniawi, tak perlu mengeluarkan biaya penyambutan, karena mereka sudah tahu apa yang mereka ingin dapatkan. Dengan keunggulan ini, kita punya kesempatan yang leluasa untuk menyampaikan apapun tentang visi dan misi kebangkitan dan peradaban.
Kedua, masjid adalah institusi yang menghimpun semua kelompok untuk berdiri dan duduk secara bersama, tanpa mendebatkan perbedaan madzhab, organisasi massa, oragnisasi politik, komunitas dakwah dan sebagainya. Masjid juga mengumpulkan semua orang dari berbagai strata sosial; miskin dan kaya, rakyat dan pejabat, para tokoh dan masyarakat umum dengan tanpa perbedaan.
Jika di luar masjid mereka terkadang bisa saling bersinggungan, di dalam mereka bisa saling berjabat tangan dan berangkulan. Masjid mewadahi kita semua untuk saling bersatu dan saling menghargai. Saling memahami dan saling menyayangi. Masjid mengajarkan kita persatuan dan kerjasama; yang itu menjadi fitur penting dalam memperjuangkan peradaban dan kemenangan.
Ketiga, masjid adalah institusi yang kepemilikannya disandarkan kepada banyak orang. Tak hanya pada pengurus, jamaah sekitar, tapi bahkan kepada semua kita, umat Islam. Karena itu, jamaah akan terlihat ringan untuk berkontribusi pada kepentingan masjid. Masjid dibiayai oleh umat secara mandiri dengan infaq dan shadaqah mereka, meski kadang tak terlalu banyak tapi cukup membiayai operasional dan kegiatan-kegiatannya. Maka, melangkah dari hal-hal kecil tidaklah terlalu sulit untuk dilakukan dari dalam sebuah masjid.
Ada banyak keunggulan lain tentunya. Dan jika kita benar punya tekad dan semangat untuk menggerakannya kembali sebagai salah fitur penting kebangkitan umat, maka kita melakukan hal yang lebih banyak; memfungsikannya semaksimal mungkin, seperti dulu ia pernah difungsikan oleh Rasulullah dan sahabatnya, dan oleh penerus-penerus mereka di abad-abad kejayaan. Wallahu a’lam.
