MASJID CORONG PERADABAN
Deskripsi blog
MASJID PERADABAN
Ust. Sulthon Hadi, Lc., M.Si
4/25/20263 min read
Masjid-Masjid Corong Peradaban dalam Lintasan Sejarah
Belum lama (1/10/2024), Kementerian Agama menetapkan 33 masjid dari 19 Provinsi di Indonesia, yang terpilih memenangi Anugerah Masjid Percontohan dan Ramah (AMPeRa) 2024, dengan kriteria-kriteria berbeda; bersejarah, tempat publik, ramah lingkungan, ramah anak dan perempuan, ramah disabilitas dan lansia, ramah keragaman, ramah dhuafa dan musafir.
Terlihat dari kriteria itu, penghargaan lebih dominan diberikan sebatas pada penilaian fungsi fisik. Hanya sedikit dari sisi kontribusi sosial. Padahal masjid bisa melakukan banyak hal; pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, menyediakan forum-forum kajian dan pengadaan perpustakaan, dan kontribusi-kontribusi lainnya yang mendukung bagi kemajuan umat. Tentu, jika kita mau mengelola dan memerankan masjid itu, lebih dari sekadar tempat rutinitas. Apapun statusnya dan di manapun keberadaannya.
Masjid-masjid kampus, misalnya, di beberapa dekade terakhir, pernah sangat ramai sehingga melahirkan aktivis-aktivis kampus yang mampu memberi kontribusi dalam banyak hal di tengah masyarakat. Puluhan abad yang lalu, seperti tercatat dalam lintasan sejarah, para penuntut ilmu biasa datang ke masjid-masjid dari segala penjuru, di mana beragam sarana disediakan bagi mereka untuk melanjutkan studi dan mengabdikan diri kepada umat. Mereka diberi mata pencaharian, dibangunkan rumah-rumah, disubsidi uang belanja untuk kebutuhan seharihari. Masjid-masjid tersebut laiknya universitas internasional di era sekarang, dan menjadi corong peradaban di zamannya. Beberapa di antaranya, sebagaimana disebutkan oleh Syekh DR Ragib As Sarjani dalam catatannya:
Masjid Umayyah di Damaskus.
Masjid ini dibangun oleh Al Walid bin Abdul Malik. Di dalamnya tumbuh banyak halaqah dari berbagai mazhab dan ragam ilmu; Malikiyah memiliki sebuah sudut, Syafi'iyah di sudut yang lain. Al Khatib Al Baghdadi punya halaqah di mana orang-orang berkumpul untuk belajar materimateri hadits. Kurikulumnya tidak terbatas hanya pada ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu bahasa dan sastra, aritmatika, dan bahkan ilmu falak (astronomi).
Masjid Amr bin Ash di Mesir.
Di dalamnya terdapat lebih dari 40 halaqah kajian. Halaqah-halaqah ini dioragnisasi oleh para pelajar untuk kepentingan kajian dan penelitian, di antaranya halaqah Imam Asy Syafi’i. Pada pertengahan abad keempat Hijriah, jumlah halaqahnya mencapai seratus sepuluh halaqah. Beberapa di antaranya dikhususkan untuk kaum wanita. Dari sini kemudian muncul sistem ijazah; di mana seorang murid, setelah mendapatkan ijazah, diizinkan menggunakan buku-buku guru (syekh)nya dan dapat meriwayatkan dari guru tersebut.
Masjid Al-Azhar
Masjid ini selesai dibangun pada tahun 361 H/972 M, yang kemudian menjadi mercusuar bagi para pelajar dari berbagai negara Islam, meski baru disahkan sebagai perguruan tinggi tahun 1961 M. Para khalifah berwakaf untuk pembangunan dan perluasan Al-Azhar, lalu kemudian mengangkat para pengajar dalam berbagai jenis ilmu pengetahuan. Hasilnya, Masjid Al Azhar menjadi sangat terkenal dan istimewa, dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang luar biasa yang didapatkan oleh para penuntut ilmu. Para pelajar datang ke masjid ini dari berbagai penjuru, hingga pada tahun 818 H/ 1415 M jumlah pelajar yang datang ke masjid ini sebagaimana klaim Al Maqrizi- mencapai 750, yang terdiri dari orang-orang asing (pendatang) dan pribumi; oang-orang dari pedalaman Mesir dan Maroko, dan setiap kelompok memiliki koridornya masing-masing.
Masjid ini terus menjadi pusat ilmiah yang bersinar, memenuhi misinya sepanjang sejarah, menghasilkan cendekiawan yang melahirkan karyakarya, sehingga benar-benar menjadi sekolah yang komprehensif untuk ilmu pengetahuan dan masyarakatnya.
Masjid Az Zaytuna di Tunis.
Masjid ini adalah cikal bakal universitas Islam tertua di dunia, Universitas Ezzaitouna. Didirikan pertama kali pada tahun 79 H/689 M, oleh Hasan bin Nu’man, sang penakluk kota Tunis, lalu diperluas oleh Ubaidillah bin al Habhab, gubernur Afrika, pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, hingga sempurna pembangunannya pada tahun 250 H/864 M. Areanya seluas 5.000 meter persegi.
Masjid ini memiliki peran yang sangat besar dalam mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, yang diampu langsung oleh para ulama besar kala itu, semisal: Abdur Rahman bin Ziyad Al Ma’afiri, seorang ahli hadits, Abu Said Sahnun At Tana wuhy, juga Imam Al Maziri dan yang lainnya.
Ust. Sulthon Hadi, Lc., M.Si
Para pelajar pun berdatangan ke masjid ini dari pelosok banyak negeri untuk menuntut berbagai macam ilmu; tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih dan bahasa, yang diajarkan di sana. Kondisi saat itu digambarkan oleh Al Hasyaisy , “Masjid ini penuh dengan ilmu pengetahuan dari berbagai jenisnya; logika dan periwayatan (tekstual), terapan dan sarana. Hingga disebutkan bahwa di bawah setiap tiangnya (ada 184 tiang) duduk seorang guru, dan di setiap lemarinya terdapat lebih dari 200.000 ribu jilid kitab.”
Masjid Al-Qarawiyyin.
Masjid ini dibangun di Fes, Maroko. Pada tahun 245 H/859 M, Fatima Al Fihri dari Daulah Al Idrisiyah, menggunakan harta warisannya untuk mendanai pembangunan masjid untuk masyarakatnya dengan dilengkapi sekolah Islam yang dikenal sebagai Madrasah. Kapasitas masjid mampu menampung 22.000 jamaah. Di tahun 322 H/934 M, Pangeran Ahmad bin Abu Bakar Al Zannati, melakukan perluasan dan pengembangan kembali. Pada awal abad keenam Hijriah, masjid ini bertambah megah hingga kemasyhurannya terus dikenali, terutama karena perkembangan keilmuannya yang sangat pesat. Para pelajar pun terus berdatangan dari berbagai penjuru negeri, untuk membekali diri mereka dengan ilmu pengetahuan.
Masjid ini bahkan memiliki anggaran khusus, hasil dari dana wakaf, di samping dana yang disumbangkan oleh para pangeran dan lainnya. Dampak dari kemasyhurannya yang luar biasa, para pelajar pun semakin pesat, datangan dari berbagai negara, bahkan para pelajar dari Eropa pun menjadikan Al Qarawiyyin sebagai tujuan pengembaraan ilmu. Patut dicatat bahwa Uskup Gerbert, yang kelak menjadi Paus Sylvester II dari Roma (999-1003 M), juga pernah belajar di Al-Qarawiyyin, setelah sebelumnya belajar di Universitas Kordoba, Andalusia, Spanyol.
