
KISAH AYAHANDA SYEKH AL-HUSHARI
Deskripsi blog
KISAH
Ust. Sulthon Hadi, Lc., M.Si
4/28/20262 min read


Lelaki itu bernama Khalil As Sayyid. Seorang pria Mesir, bekerja sebagai pembuat tikar. Maka orang-orang pun menyebutnya Al Hushary; si pengrajin tikar.
Hidupnya sederhana. Tidak kaya, dan sepertinya tak punya kelebihan lain kecuali bahwa, setiap kali ia berjalan dan menemukan sebuah mushalla atau masjid yang tanpa alas, atau hanya dihampari jerami padi, ia kembali lagi ke tempat itu dan menhamparinya dengan tikar-tikar buatannya. Semangat pengabdian dan perhatiannya kepada rumah Allah, sangat lah besar.
Suatu malam, Khalil bermimpi. Ia melihat tulang punggungnya seperti membentuk tangkai dan menjuntai mengeluarkan buah-buah anggur, lalu orang-orang pun berduyun mendatangi ya, bergantian, secara berkelompok, memakan buah-buah anggur itu. Aneh ya, meski dimakan oleh banyak orang, buah-buah anggur itu tidak pernah habis.
Ternyata, mimpi yang ia kira sekadar bunga tidur itu, berulang. Karena penasaran, ia lalu mendatangi seorang syekh dan menceritakan kepadanya. Syekh tersebut bertanya, “Apakah engkau memiliki keturunan?” Dia menjawab, “Ya. Anakku Mahmud berusia dua tahun.” Syekh itu menasehati, “Kirim dia ke Al Azhar untuk menekuni ilmu-ilmu Islam, dia akan menjadi seorang yang unggul.”
Khalil pun mendaftarkan anaknya, Mahmud, ke Al Azhar. Hebatnya, dalam usia yang baru 8 tahun, Mahmud kecil sudah mampu mengkhatamkan hapalan Al Quran. Di kemudian hari, Mahmud yang lebih dikenal Al Hushary, (putra) si pengrajin tikar, dialah orang pertama yang tilawah Al Qurannya dalam riwayat Hafs dari Asim, direkam untuk kemudian diperdengarkan ke seluruh dunia dan dinikmati kaum Muslimin, jauh sebelum kita mengenal Syekh Al Mansyawy, Al Hudzaify, Abdul Basith, Ayyub, Al Ghamidy, As Sudais, Asy Syuraim, apalagi Al 'Afasy, Al Mu'aiqily dan lainnya yang hari ini suaranya lebih akrab di telinga kita.
"ANGGUR" yang Tak PERNAH HABIS untuk Si PENGRAJIN TIKAR
Ust. Sulthon Hadi, Lc., M.Si
Yang juga mengagumkan, Syekh Mahmud Al Hushari menolak menerima imbalan finansial apapun untuk itu. Ketulusannya dibalas Allah; suara indahnya digaungkan untuk memberi kesejukan di bumi, hingga kini. Syekh Al Hushary pula orang pertama yang membaca Al Qur'an di Kongres Amerika Serikat dan di Hayward Hall yang menghadap ke Sungai Thames, di London. Ia juga yang mengumkandangkan adzan Zhuhur di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Al Hushary wafat pada tanggal 24 November 1980, tapi kita masih bisa menikmati tangkai buah anggur itu, sebab tangkai itu abadi dan tak habis-habis, meski pohonnya sudah tiada. Di berbagai platfom media, suara indanya masih terdengar merdu, disimak oleh penduduk bumi yang beriman, dari belahan Timur hingga ke belahan Barat. Semoga Allah merahmati dan mengampuni Syekh Mahmud bin Khalil Al Hushary, dan tentu saja juga orangtuannya.
Maha Suci Allah yang tidak menghilangkan pahala orang-orang yang berbuat baik; seorang ayah yang selalu gelisah melihat masjid tak bertikar, lalu kemudian ia bentangkan tikar-tikar di dalamnya.
Kebaikan itu kemudian Allah balas dengan memperdengarkan suara tilawah Al Qur'an anaknya. Dari kisah ini, sesungguhna kita bisa memetik beragam hikmah penting. Tapi satu di antara yang penting itu untuk selalu kita ingat, bahwa memakmurkan masjid, bagaimana pun bentuknya, sesederhana apapun nilainya, ia agung di sisi Allah, maka agung pula balasannya. Sebab yang dimakmurkan itu adalah rumah Yang Mahaagung; satu-satunya bangunan yang direkomendasikan untuk ditinggikan. "Fii buyuutin adzinallaahu 'an turfa'a".
Dan bahwa yang melakukannya, selalu dalam janji mendapatkan petunjuk dan bimbingan-Nya. "Fa 'asaa ulaaika anyakuunuu minal muhtadiin". Maka jangan pernah lelah memakmurkan masjid, apalagi bosan dan berhenti.


